Hi, I'm Azies welcome to my space. This is a documentation of stories and experiences of my life.

28 Desember, 2011

Bertekad Menyadarkan sang kakak :( Akbar ingin jadi Ustadz )

"Profil Muhammad Akbar"
Profil Mahasiswa UIKA Peraih Beasiswa Kader Ulama PLN
Setiap orang tentu mempunyai kisah perjalanan hidup masing-masing. Demikian pula dengan Muhammad Akbar. Pria anak kedelapan dari sembilan bersaudara ini, juga mempunyai perjalanan panjang sebelum menjadi mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. “Sebenarnya aku sangat bersyukur karena dengan doa dan dukungan dari orang tuaku serta saudaraku, aku bisa sampai ke UIKA,” ia mulai bercerita.
Semenjak kecil orang tuanya sudah bertekad menyekolahkannya di pesantren bahkan ingin menyekolahkan setinggi-tingginya. Hal ini karena hampir semua kakaknya putus sekolah. Kakak pertama dan keduanya hanya tamatan SMP. Kakak yang ketiga sampai kelima hanya tamat SD. Memang saat itu, hampir semua pemuda di desanya tidak melanjutkan sekolah.

Yang membuat sang ayah bertekad keras menyekolahkan Akbar di pesantren dan sekolah setinggi-tingginya adalah karena ayahnya merasa gagal dalam mendidik kakak-kakaknya. Semua kakaknya menjadi preman. Tidak ada lorong yang tidak mereka kuasai. Mereka pun hidup terombang-ambing sambil setiap harinya hanya mencekik botol. Tak jarang Akbar mendapati ibunya berdoa di keheningan malam sambil meneteskan air mata mendoakan agar saudara-saudaranya diberikan hidayah oleh Allah ke jalan yang benar. Sang ayah pernah berkata kepadanya, “Akbar kamu harus sekolah setinggi-tingginya jangan mengikuti kakak-kakakmu. Mudah-mudahan engkaulah kelak yang menyadarkan kakak-kakakmu,” tutur ayahnya kepadanya.

Sebagaimana niat awal ayahnya, setelah tamat dari SMP PGRI Toari (Sulawesi Tenggara), Akbar dimasukkan ke pesantren. Ia sempat menolak karena hampir seluruh temannya masuk SMA. “Kalau kamu tidak mau melanjutkan di pesantren maka ayah tidak akan menyekolahkanmu,” paksa ayahnya. Akbar akhirnya menuruti kemauan ayahnya.

Pemuda yang murah senyum itu melanjutkan penuturannya bahwa sebelum berangkat ke pesantren seakan ada tanda yang diberikan Allah kepada keluarganya. Tiba-tiba kakak yang ketiganya meminta sajadah untuk shalat, “Semalam aku mimpi bertemu dengan Rasulullah dan mulai hari ini aku ingin bertaubat.” Tangis ibunya pun membahana saat mendengarkan hal itu, seperti suara guntur yang hendak membelah langit. Ayahnya pun turut menangis. Semenjak itu Akbar mempunyai semangat melanjutkan pendidikannya di Pesantren.

Apalagi setelah kakak keempatnya terjatuh sakit akibat minuman keras, dan narkoba, kakak itu pun menyesali semua perbuatannya.
“Ketika aku jauh dari Allah hatiku pun tidak pernah merasakan ketenangan. Yang ada hanyalah kesedihan,”
itulah kalimat tulus yang keluar dari bibir kakak keempatnya yang masih membekas dalam diri Akbar dan senantiasa diingatnya.
Setelah beberapa bulan belajar di pondok pesantren, waktu libur pun tiba. Akbar sudah tidak sabar lagi untuk menyampaikan apa yang ia dapat dari pesantren. Betapa senang hati ibu dan ayahnya. Akbar bagaikan ustadz bagi kakak-kakaknya. Dialah yang mengajari kakaknya mengaji dan shalat yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Bahkan ayahnya pun terpaksa tunduk tidak merokok setelah mendapat penjelasan darinya, walaupun setelah debat yang cukup lama.

Seperti udara, kabar tentang kesadaran kakak Akbar segera memenuhi ruang kosong di hampir seluruh Desa Toari. Kakak-kakak Akbar memang terkenal bahkan sampai di desa tetangga. Masyarakat pun merasa terharu. Di antara mereka ada yang mengatakan, “Masya Allah”.
“Habis gelap terbitlah terang”, itulah semboyan yang pas pada keluarga Akbar
. Ia betul-betul menggunakan waktu liburnya selama sebulan untuk berdakwah kepada keluarganya. Suasana di rumahnya berubah seratus persen. Perbincangan yang terjadi antara keluarganya hanyalah masalah agama. Bila suara adzan berkumandang, kakaknya bergegas mengambil air wudhu untuk shalat berjamaah di masjid. Masjid yang dahulunya terkadang diisi oleh segelintir orang, kini dipenuhi keluarga Akbar.
Akbar pun semakin merasakan nikmatnya sekolah di pesantren dengan berdakwah kepada keluarganya. Bila waktu libur tiba iapun ingin segera pulang karena ingin menyampaikan ilmu yang baru ia dapat.

Akbar melanjutkan penuturannya bahwa ia bahkan terkejut saat di SMS oleh kakak ketiganya bahwa ia telah hafal lima juz. Dengan semangat mengejar ketertinggalan, kakak ketiganya tidak pernah merasa putus asa meski harus sendiri menghafal. Alhamdulillah, meski harus jatuh bangun kurang lebih tiga tahun kakaknya mampu menghafal lima juz. Akbar sangat terharu karena kakak ketiganyalah yang paling susah diajari tajwid bahkan tanpa sadar ia meneteskan air mata.
Ketika ditanya bagaimana ia bisa sampai ke UIKA, ia menjawab, “Aku mendengar kabar dari temen bahwa di UIKA terbuka pendaftaran mahasiswa dengan beasiswa dari PLN.” Setelah mencoba mendaftar ia pun diterima. Senyum haru dan bahagia orang tua dan saudara-saudaranya karena akhirnya Akbar mampu melanjutkan ke perguruan tinggi sesuai dengan cita-cita sang ayah. Hanya doa yang tulus yang bisa mereka panjatkan agar kelak anaknya bisa berguna bagi seluruh umat manusia.



adds